Kondisi Hutang Negara Indonesia Selama Pandemi Tahun 2020

Covid-19 memberikan dampak yang buruk bagi perekonomian seluruh negara, termasuk juga Indonesia. Dikarenakan penerimaan pajak oleh pemerintah juga mengalami penurunan, dan juga berkurang akibat adanya Virus Corona. Maka alternatif yang dipilih oleh pemerintah yaitu menambah hutang baru. Pemerintah telah melakukan pinjaman asing, agar memperoleh dana tambahan yang dapat digunakan untuk menangani kemerosotan ekonomi akibat Covid.

Keadaan Negara Indonesia

Selama masa pandemi Virus Corona, kondisi perekonomian Indonesia menjadi tidak stabil dan cenderung mengalami penurunan yang signifikan. Pemerintah Indonesia pun melakukan berbagai kebijakan untuk menghadapi pandemi tersebut. Seperti menurunkan suku bunga Deposit Facility menjadi 4.00 persen, BI 7-Day Reserve Repo Rate menjadi 4.75 persen, dan suku bunga landing facility sebesar 25 bps menjadi 5.50 persen.

Hutang Negara Indonesia naik

Hal tersebut dilakukan oleh pemerintah dengan harapan bahwa pertumbuhan domestik dapat tetap terjaga di tengah-tengah pandemi. Bank Indonesia juga turut membantu pemerintah dalam terlaksananya kebijakan tersebut, dengan cara mengawasi pertumbuhan ekonomi domestik dan global. Hal ini bertujuan untuk menjaga inflasi serta stabilnya perekonomian negara.

Masyarakat Indonesia sendiri juga telah merasakan dampak dari Virus Corona, mulai dari penerimaan upah atau gaji yang berkurang, hingga kehilangan pekerjaan. Padahal kebutuhan terus meningkat setiap harinya. Tak hanya itu saja, pinjaman asing yang dimiliki negara pun juga terkena imbas dari wabah Covid-19. Pinjaman luar negeri tersebut adalah salah satu elemen penunjang pembangunan infrastruktur negara.

Jika tidak memiliki anggaran, maka pemerintah pun tidak bisa meneruskan pembangunan infrastruktur negara dengan benar. Sehingga, pinjaman luar negeri menjadi solusi berkelanjutan yang dipilih oleh negara untuk membiayai kekurangan dana infrastruktur tersebut. Kondisi terkini pinjaman asing yang dimiliki oleh Indonesia sudah menembus angka USD 410,8 Miliar atau setara dengan 6.709 triliun rupiah.

Karena memang kondisi saat ini merupakan wabah yang cukup ekstrim, sehingga pemerintah harus berbuat demikian. Selain itu, kondisi luar biasa yang diciptakan oleh Virus Corona mendorong pemerintah melakukan langkah luar biasa. Salah satunya yaitu dengan memperbolehkan Bank Indonesia untuk membeli SBN tradable jangka panjang sebagai backstop atau last resort.

Pinjaman Luar Negeri Indonesia

Terhitung pada tahun 2020 ini, tercatat 3 pinjaman asing telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia, yaitu dari World Bank atau bank dunia, Asian Development Bank atau ADB, dan Islamic Development Bank atau IsDB. Jika dilihat dari hal tersebut, maka peranan pinjaman luar negeri memiliki peran yang besar bagi negara Indonesia. Karena semakin meningkatnya kebutuhan yang diperlukan oleh masyarakat, apalagi di tengah pandemi Virus Corona yang melanda saat ini.

Hutang Negara Indonesia besar

Pemerintah benar-benar membutuhkan dana tambahan tahun ini untuk digunakan dalam penanggulangan virus. Wabah Covid-19 membuat pengeluaran lebih besar dan meningkat, jauh di atas jumlah yang diterima oleh negara. Maka pinjaman luar negeri memang menjadi solusi terbaik yang bisa diambil. Selain itu, sektor swasta pun membutuhkan pinjaman baru untuk melakukan refinancing pada pembayaran hutang jatuh tempo beserta bunganya.

Sebagian penduduk masih menilai bahwa pinjaman asing merupakan hal yang tidak tepat dalam menanggulangi permasalahan yang terjadi di tengah pandemi. Hal ini terjadi karena masih terdapat masyarakat yang belum mengetahui peranan, serta manfaat dari adanya pinjaman luar negeri tersebut di dalam pembangunan. Semoga wabah Virus Corona ini segera berakhir, sehingga perekonomian Indonesia dapat kembali pulih dan pinjaman pun dapat dikurangi.

Meski demikian, kondisi seperti ini tidak hanya dialami oleh negara Indonesia saja. Hal ini juga terjadi bahkan hampir di seluruh negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Bahkan Amerika Serikat tercatat memiliki pinjaman tertinggi di dunia, yaitu sekitar USD 19,23 triliun. Meskipun jumlah tersebut hanya mencakup sekitar 106,70% dari PDB atau produk domestik brutonya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *